sekolahpalu.com

Loading

naskah drama pendek 6 orang tentang sekolah

naskah drama pendek 6 orang tentang sekolah

Naskah Drama Pendek 6 Orang Tentang Sekolah: “Remedial Terakhir”

Dia: Persahabatan, Tekanan Akademik, dan Pentingnya Kejujuran di Sekolah.

Latar: Ruang kelas yang sepi setelah jam sekolah usai. Meja-meja ditata semi-berantakan. Papan tulis penuh coretan rumus dan catatan. Terdapat jam dinding yang menunjukkan pukul 15:30.

Tokoh:

  • Rina: Murid yang pintar dan perfeksionis, namun tertekan dengan ekspektasi.
  • Budi: Murid yang santai, humoris, tapi sebenarnya peduli pada teman-temannya.
  • Citra: Murid yang ambisius dan kompetitif, terkadang terlalu fokus pada nilai.
  • Di Sini: Murid yang kreatif dan artistik, kurang memperhatikan pelajaran formal.
  • Elsa: Murid yang pendiam dan pemalu, namun memiliki potensi besar.
  • Faisal: Murid yang jujur dan bertanggung jawab, selalu berusaha menolong teman.

Adegan 1:

(Rina duduk gelisah di mejanya, membolak-balik kertas ujian. Budi masuk dengan santai, menguap lebar.)

Budi: Woi, Rina! Masih di sini aja? Mau jadi penjaga kelas, nih?

Rina: (Menghela napas) Gimana bisa pulang, Bud? Remedial matematika ini bikin pusing. Aku udah belajar mati-matian, tapi kok hasilnya gini-gini aja?

Budi: Tenang, Rin. Matematika terkadang membuatku pusing. Saya menyerah begitu saja dari awal. Yang penting lulus.

Rina: (Frustrasi) Lulus aja nggak cukup, Bud. Aku harus dapat nilai bagus. Orang tua aku… mereka punya ekspektasi tinggi.

Budi: (Duduk di meja depan Rina) Iya, gue ngerti. Tapi jangan terlalu dipaksain juga. Kesehatan mental lebih penting, tau. Mending kita cabut dulu, cari udara segar. Besok baru belajar lagi.

(Gambar masuk dengan tergesa-gesa, membawa buku catatan tebal.)

Citra: Rina! Kamu udah lihat hasil remedial matematika?

Rina: (Menunduk) Udah. Nggak sesuai harapan.

Citra: Aku juga! Padahal aku udah belajar semalaman. Soalnya susah banget! Pak Anton emang sengaja bikin kita susah, ya?

Budi: Jangan suudzon, Cit. Mungkin emang kitanya aja yang kurang pintar.

Citra: (Sinir) Mudah buat kamu ngomong gitu, Bud. Kamu kan emang nggak terlalu peduli sama nilai.

Budi: Hei, aku peduli. Hanya saja saya lebih memilih menikmati hidup daripada menekankan angka.

(Dito masuk dengan membawa buku sketsa dan pensil.)

Di Sini: Kalian masih bahas remedial? Aku udah nyerah dari awal. Mending aku gambar aja. Siapa tahu nanti bisa jadi seniman terkenal.

Rina: (Sinir) Seniman terkenal yang nggak lulus SMA?

Di Sini: Siapa tahu? Dunia seni kan nggak terlalu lihat ijazah. Yang penting karya.

Citra: Pertahankan, Dito. Gelar ini penting untuk masa depan.

Di Sini: Masa depan itu luas, Cit. Nggak cuma kerja kantoran.

(Elsa masuk perlahan, terlihat ragu-ragu.)

Elsa: Eh… maaf, aku ganggu.

Rina: Elsa? Ada apa?

Elsa: Aku… aku juga ikut remedial matematika.

Budi: Wah, Elsa! Tumben kelihatan. Biasanya ngumpet di perpustakaan terus.

Elsa: (Malu) Aku… aku kurang paham materinya.

Citra: Sama! Aku juga! Pak Anton jelasinnya terlalu cepat.

Adegan 2:

(Faisal masuk dengan membawa beberapa buku dan catatan.)

Faisal: Assalamualaikum! Maaf telat. Tadi bantu Ibu di warung.

Rina: Waalaikumsalam, Faisal. Nggak apa-apa. Kita juga masih di sini.

Faisal: Kalian masih bahas remedial matematika?

Citra: Iya, Faisal. Kamu dapat berapa? Pasti bagus, kan? Kamu kan selalu dapat nilai bagus.

Faisal: (Menunduk) Lumayan. Tapi aku nggak terlalu bangga.

Budi: Kenapa? Biasanya kamu seneng kalau dapat nilai bagus.

Faisal: Aku… aku curiga ada yang nggak beres. Soal remedialnya sama persis kayak soal latihan yang dikasih Pak Anton kemarin.

(Semua terdiam. Rina menatap Faisal dengan kaget.)

Rina: Maksud kamu Pak Anton sengaja kasih bocoran?

Faisal: Aku nggak tahu pasti. Tapi kemungkinannya besar.

Citra: (Berpikir) Kalau gitu, berarti kita semua dapat nilai bagus karena bocoran?

Faisal: Mungkin. Tapi aku nggak yakin semua orang tahu soal ini.

Di Sini: Terus, kita harus gimana? Diam aja?

Faisal: Menurutku, kita harus jujur. Kita harus bilang ke Pak Anton kalau kita tahu soal ini.

Rina: (Ragu) Tapi kalau kita jujur, nilai kita bisa diturunin. Atau bahkan kita nggak lulus?

Citra: (Panik) Iya! Aku nggak mau nilai aku diturunin! Aku udah belajar susah payah!

Budi: Tapi kalau kita diam aja, berarti kita nggak jujur. Itu sama aja kayak curang.

Elsa: (Berbisik) Aku… aku setuju sama Faisal. Kita harus jujur.

Adegan 3:

(Terjadi perdebatan kecil antara Rina, Citra, dan Faisal. Budi dan Dito berusaha menengahi. Elsa hanya diam, mendengarkan.)

Rina: Aku ngerti maksud kamu, Faisal. Tapi ini terlalu berisiko. Aku nggak mau ambil risiko.

Citra: Sama! Aku juga! Aku udah capek belajar. Aku nggak mau hasilnya sia-sia.

Faisal: Tapi ini tentang integritas, Rina, Citra. Kita nggak boleh curang. Kita harus belajar dengan jujur.

Budi: Guys, tenang dulu. Kita bicarain ini baik-baik. Jangan sampai berantem.

Di Sini: Iya, bener kata Budi. Kita cari jalan tengah.

(Elsa tiba-tiba berbicara dengan keras.)

Elsa: Cukup! Aku nggak tahan lagi!

(Semua terdiam, menatap Elsa dengan heran.)

Elsa: Aku… aku tahu soal bocoran itu. Aku lihat Pak Anton kasih soalnya ke Citra kemarin.

(Citra terkejut dan salah tingkah.)

Citra: Elsa! Kamu… kamu ngomong apa sih?

Elsa: Aku ngomong yang sebenarnya, Citra. Kamu nggak bisa bohong lagi.

Rina: (Menatap Citra dengan kecewa) Citra? Kamu… kamu tahu soal ini?

Citra: (Menangis) Iya… aku tahu. Tapi aku takut nilai aku jelek. Aku pengen bikin orang tua aku bangga.

Faisal: Jujur itu lebih penting daripada nilai, Citra. Orang tua kamu pasti lebih bangga kalau kamu jujur.

Budi: Bener kata Faisal. Kejujuran itu nomor satu.

Di Sini: Lagian, nilai bagus hasil curang nggak ada artinya.

Adegan 4:

(Citra akhirnya mengakui perbuatannya. Rina mulai menyadari pentingnya kejujuran. Mereka sepakat untuk menemui Pak Anton bersama-sama.)

Rina: Maaf ya, Faisal. Aku baru sadar kalau kamu benar. Kejujuran itu lebih penting dari segalanya.

Faisal: Nggak apa-apa, Rina. Yang penting sekarang kita mau jujur.

Citra: (Menangis) Aku juga minta maaf. Aku salah. Aku janji nggak akan ngulangin lagi.

Budi: Udah, Cit. Jangan nangis lagi. Yang penting sekarang kamu udah jujur.

Di Sini: Iya, bener. Masa depan masih panjang. Kita bisa belajar lagi dengan jujur.

Elsa: (Tersenyum) Aku bangga sama kalian.

Faisal: Oke, guys. Sekarang kita temui Pak Anton. Kita jelasin semuanya.

(Mereka berenam beranjak dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas dengan tekad yang baru. Mereka siap menghadapi konsekuensi dari kejujuran mereka, namun mereka tahu bahwa mereka telah melakukan hal yang benar. Mereka berjalan bersama sebagai teman, saling mendukung satu sama lain, menghadapi tekanan akademik dengan integritas dan persahabatan yang kuat.)

(Lampu padam.)